Tampilkan postingan dengan label analisisi saham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisisi saham. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2019

Simak rekomendasi analis untuk saham BSDE, APLN, dan TOPS


JAKARTA. Pertumbuhan kinerja sejumlah emiten properti KOMPAS100 terpantau minus di 2018. Analis menilai lesunya harga properti disebabkan siklus properti yang belum uptrend.





Sebagai tambahan informasi, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE, anggota indeks Kompas100 ini), membukukan pendapatan yang turun 35,9% year on year (yoy) dari Rp 10,35 triliun tahun 2017 menjadi Rp 6,63 triliun tahun 2018. Begitu juga dengan laba bersih minus 73% yoy yang turun Rp 4,92 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp 1,29 triliun pada tahun 2018.





Begitu juga penjualan dan pendapatan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN, anggota indeks Kompas100 ini) turun hingga 28,5% yoy menjadi Rp 5,03 triliun pada tahun lalu. Di 2017 APLN masih mencatat pendapatan Rp 7,04 triliun.





Sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 94,1% yoy dari Rp 1,36 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp 79,6 miliar pada tahun 2018





Penurunan pendapatan juga dibukukan PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS, anggota indeks Kompas100 ini) yang sepanjang kuartal III sebesar 37% quarter to quarter (qtq) menjadi Rp 1,15 triliun. Laba bersih yang dicatat juga anjlok 54,3% qtq menjadi Rp 85,5 miliar dari Rp 187,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.





Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe melihat penurunan ini karena siklus properti yang sedang lesu. Menurutnya uptrend yang hadir 10 tahun sekali baru akan booming pada 2023.





“Saya rekomendasi Buy BSDE dengan harga wajar Rp 1.800 tapi untuk penyimpanan jangka panjang hingga 2021,” jelasnya.





Namun, di 2021 investor bisa melakukan transaksi jangka pendek dan menengah karena kondisi harga sudah mulai uptrend.





Analis Panin Sekuritas William Hartanto menjelaskan valuasi emiten menjadi murah karena saham lain yang sudah naik tinggi. “Akan datang waktunya saham properti yang bervaluasi murah akan dilirik oleh pelaku pasar,” jelas dia.





William menunjuk BSDE sebagai emiten yang paling direkomendasikan untuk Buy. “Melihat potensi dan minat masyarakat yang tinggi, BSDE punya akumulasi asing yang besar,” jelas dia.





Bagi investor yang mau melakukan transaksi saham BSDE, gunakan strategi buy on breakout 1.500. Pergerakannya masih terlihat sideways sebelum menembus resistance ini.





Untuk APLN secara teknikal masih menurun. Tapi investor dapat mencermati support terbatas di 166. Begitu juga dengan TOPS yang berada pada support 690. “Keduanya bisa dibeli di support ini atau di atasnya, yang penting support dipertahankan,” jelasnya.





Menurut William, ketiga saham ini masih layak dikoleksi jangka pendek hingga jangka menengah karena kinerja dan peluang perusahaan masih potensial.





Sumber :
https://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-analis-untuk-saham-bsde-apln-dan-tops
Reporter: Arfyana Citra Rahayu 
Editor: Yudho Winarto





cleaning service panggilan jogja terbaik dengan layanan memuaskan dan harga terjangkau, hubungi kami segera


Analis: Saham properti masih layak koleksi


 JAKARTA. Sejumlah emiten properti di indeks Kompas100 terpantau mencatatkan pertumbuhan yang negatif. Meski begitu, sejumlah analis yakin saham properti masih layak koleksi.





Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mencermati sektor properti yang tahun depan sudah mulai terasa gaung uptrend-nya. “Gaung bisnis properti baru akan terasa nanti di 2021, puncaknya di 2023 dan tidak menutup kemungkinan potensi kenaikannya bisa 100%,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (9/4).





Kiswoyo menjelaskan lebih lanjut, cara mencermati sektor properti, investor harus melihat seberapa luas lahan kosongnya (land bank). 





Misalnya saja BSDE memiliki 2000 hektar (ha) di lahan premium dan maju sebagai kota mandiri yang sukses sehingga keberadaan lahan kosong itu menjadi sangat mahal dan potensial. Menurutnya BSDE punya potensi besar apalagi saat gelombang harga properti mulai memuncak.





Senada dengan Analis Panin Sekuritas William Hartanto yang menjelaskan valuasi harga saham properti akan membaik. “Harga menurun dengan kinerja yang masih bagus membuat valuasi beberapa emiten seperti BSDE, APLN, dan TOPS menjadi murah,” jelas dia.





Menurutnya harga menjadi rendah jika menilai dari Price Earning Ratio (PER)-nya. Selai itu juga ketika dibandingkan dengan saham-saham lain yang sudah naik tinggi. Ia meyakinkan saham properti yang memiliki valuasi murah ini akan dilirik oleh pelaku pasar.





William menekankan perbaikan harga ini menunggu institusi melakukan rebalancing atau saat BI rate dipangkas. “Jika benar BI rate dipangkas maka kenaikan saham properti akan lebih cepat lagi,” tukasnya.





Kiswoyo rekomendasikan saham properti dikoleksi jangka panjang, menunggu siklus properti kembali naik. Sedangkan William menyarankan saham properti dapat dikoleksi jangka pendek dan jangka menengah.





Sumber :
https://investasi.kontan.co.id/news/analis-saham-properti-masih-layak-koleksi
Reporter: Arfyana Citra Rahayu 
Editor: Tendi





rumah baru masih berantakan? hubungi cleaning service panggilan jogja untuk solusi terbaik


Rabu, 20 Maret 2019

Analis: Jakarta Indeks Syariah masih berpotensi menguat di tahun ini


JAKARTA. Jakarta Indeks Syariah (JII) selama sepekan terakhir mengalami penguatan sebesar 1,93% bahkan penguatan indeks syariah lebih besar dibandingkan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu yakni sebesar 1,22%.





Analis Trimegah Sekuritas Rovandi mengatakan, naiknya indeks syariah yang mampu mengalahka IHSG karena saham-saham sektor perbankan sedang mengalami penurunan, sementara sektor perbankan tidak terdapat pada indeks syariah. Dia menilai, penguatan JII bisa mencapai 2% hingga 3% pada pekan ini.





Menurutnya, Indeks syariah masih menarik karena market capital Indeks tersebut masih kecil, sehingga banyak ruang bagi saham-saham yang akan IPO atau dari saham-saham yang sudah listing untuk masuk ke indeks JII.





"Kesadaran masyarakat terhadap saham yang syariah makin meningkat terutama sejak kasus saham DLTA muncul, kasus ini membuat banyak investor yang mulai tertarik mengenai halal atau haramnya suatu saham, sehingga investor mulai tertarik untuk mengoleksi saham yang halal," katanya kepada Kontan.co.id, Selasa (19/3).





Senada Analis Jasa Capital Sekuritas Chris Apriloiny mengatakan, prospek indeks islamic menarik untuk dicermati investor, karena saham-saham yang masuk ke daftar indeks tersebut mempunyai kinerja yang baik, salain itu emiten yang terdapat di indeks syariah merupakan emiten yang memiliki hutang yang tergolong sehat.





"Setahu saya, saham-saham yang masuk di indeks syariah memiliki rasio antara total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45% dan rasio antara total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal dibandingkan dengan total pendapatan tidak lebih dari 10%," jelasnya.





Dia memprediksikan ditahun ini JII berpotensi mengalami kenaikan 5% dari tahun lalu, alasannya karena kondisi ekonomi dinilainya akan lebih stabil dari tahun lalu, sehingga dapat menyokong pergerakan JII.





Sementara itu Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menilai, JII masih akan mengalami pergekan yang konsolidasi untuk jangka pendek hingga jangka menengah. Namun, untuk jangka panjang prediksinya JII bisa mengalami penguatan dan bertengger di level 808.





Untuk penguatan JII yang terjadi pada pekan lalu, menurut Nafan di dorong oleh laporan kinerja emiten yang ada di indeks JII. Ambil contoh ANTM, pada tahun 2018 emiten ini mengalami pertumbuham laba bersih 540, 47% secara year on year (yoy).





Dia mengatakan investor dapat melakukan akumulasi beli untuk saham-saham yang ada di indeks JII dari sekarang jika ingin berinvestasi untuk pajang, namun jika investor ingin melakukan investasi untuk jangka pendek dan menengah, sebaiknya investor wait and see terlebih dahulu karena masih ada sentimen politik.





Dengan demikian, Nafan menyarankan investor dapat mengoleksi Aneka Tambang (ANTM) dengan target harga Rp 1.235, Vale Indonesia (INCO) dengan target harga Rp 4.100, Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan target harga Rp 4.510. Seluruhnya dapar dikoleksi untuk jangka panjang.





Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/analis-jakarta-indeks-syariah-masih-berpotensi-menguat-di-tahun-ini





Reporter: Auriga Agustina 
Editor: Tendi





rumah kotor, berantakan, dan kurang nyaman? mungkin anda harus membersihkannya, klik jasa bersih rumah jogja untuk mendapatkan pelayanan terbaik


Analis: Saham Matahari (LPPF) masih layak koleksi meski kinerjanya turun di 2018


JAKARTA. PT Matahari Department Store Tbk meraih kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun lalu. Analis pun melihat, bukan perkara mudah bagi emiten berkode LPPF tersebut untuk memperbaiki kinerja keuangannya pada tahun ini.





Seperti yang diketahui, meski mengalami kenaikan pendapatan sebesar 2,2% (yoy) menjadi Rp 10,24 triliun, tapi laba bersih emiten anggota indeks Kompas100 ini, tergerus 42,5% (yoy) menjadi Rp 1,09 triliun.





Di samping itu, pertumbuhan penjualan di tiap toko atau same sales store growth (SSSG) yang diraih LPPF hanya mencapai 3,5% sepanjang tahun lalu.





Analis Ciptadana Sekuritas Asia Robert Sebastian menilai, kinerja LPPF masih berpeluang tumbuh di tahun ini, namun cenderung terbatas. Dari sisi SSSG, Robert memperkirakan LPPF akan kembali mencetak SSSG di level satu digit pada tahun ini.





Hal itu masih wajar mengingat penjualan produk LPPF tergolong rendah dalam beberapa tahun terakhir. Tengok saja, LPPF sempat mencetak pertumbuhan SSSG -1,2% di tahun 2017 lalu, sebelum akhirnya kembali tumbuh secara positif di tahun 2018.





“Dari situ, LPPF masih butuh waktu untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatannya secara signifikan,” ujar dia, Selasa (19/3).





Memang, sebagai emiten ritel yang menyasar konsumen kelas menengah, di atas kertas LPPF akan merasakan dampak positif peningkatan dana bantuan sosial dari pemerintah di tahun ini.





Akan tetapi, sentimen tersebut belum tentu efektif bagi LPPF akibat persaingan bisnis yang meningkat.





Menurut Robert, karena kontribusi penjualan online masih minim, kompetitor bisnis bagi LPPF untuk saat ini bukan berasal dari perusahaan e-commerce. Pesaing berat justru berasal dari perusahaan-perusahaan toko khusus atau specialty store.





Walau tidak menyebut contoh nama kompetitor yang dimaksud, Robert bilang toko khusus ini memiliki keunggulan berupa produk-produk yang lebih beragam sekaligus spesifik. Apalagi, lokasi toko khusus ini biasanya masih di satu mal yang sama dengan gerai milik LPPF.





“Keberadaan specialty store bisa merebut konsumen LPPF bila perusahaan tidak membenahi kualitas produknya,” ungkap Robert.





Ia pun masih merekomendasikan beli saham LPPF dengan target Rp 5.250 per saham. Rencana buyback yang dilakukan oleh LPPF diyakini akan memperbaiki kinerja saham emiten tersebut, sehingga menarik bagi para investor.





Apalagi, LPPF dikenal sebagai emiten pemberi dividen yield yang menarik. Walaupun, rasio pembayaran dividen LPPF kini turun dari 70% menjadi 50% terhadap laba bersih akibat faktor penurunan kinerja di tahun lalu.





Sumber :https://investasi.kontan.co.id/news/analis-saham-matahari-lppf-masih-layak-koleksi-meski-kinerjanya-turun-di-2018





Reporter: Dimas Andi
Editor: Tendi





liburan di kost akan terasa lebih nyaman jika ruangan kamu bersih dan rapi, tapi mager? jangan khawatir klik jasa bersih kost jogja untuk solusi terbaik


Rabu, 06 Maret 2019

Simak rekomendasi analis untuk saham lapis kedua bagi para trader


JAKARTA. Di tengah kondisi indeks yang merosot, trader bisa menyimak saham-saham yang menarik untuk trading selama sepekan sampai dua pekan ke depan. Analis menyebut, selain saham lapis pertama, lapis kedua juga menarik untuk disimak.





Analis Panin Sekuritas William Hartanto merekomendasikan saham-sahan lapis dia macam WIKA, BTPS, CLAY, SIDO, dan WTON.





Alasannya, karena untuk trading maka kita perlu saham-saham yang memberikan indikasi menguat dalam jangka pendek. Dan saham-saham yang saya sebutkan memenuhi kriteria tersebut," jelas William kepada Kontan.co.id, Selasa (5/3).





William menyebut, fluktuasi saham-saham pilihannya tersebut tergolong tidak tinggi. "Enggak akan membuat takut trader pemula. Bahkan dua yang saya sebut, CLAY dan BTPS, cenderung lebih santai pergerakannya," tambahnya.





Menurut William, "pergerakan kelima saham tersebut dipengaruhi juga oleh sentimen fundamental perusahaan. " Ada pengaruh. Dari laporan keuangan yang sudah dirilis, beberapa yang mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan akan mengalami penguatan. Jadi, fundamental turut berperan juga," kata William.





Ia merekomendasikan entry buy WIKA di range 1.800 - 1.835, BTPS 2.120 - 2.150, CLAY 2500, SIDO 990 - 1.000, dan WTON 500.





William menambahkan, kisaran pergerakan saham-saham terssbut cukup pendek karena market juga masih melemah, sehingga ia memberi target WIKA di level 2.000, BTPS 2.200, CLAY 3.000, SIDO 1.100 dan WTON 540 - 600.





Sementara, analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menjagokan saham lapis kedua macam BRIS dan BWPT.





Ia merekomendasikan beli BRIS di current price dengan target harga jangka pendek di level 575. "BRIS secara teknikal tergolong fluktuatif. Sektor finance di tahun ini masih prospektif," katanya kepada Kontan.co.id, Selasa (5/3).





Untuk BWPT, Nafan menyarankan beli di current price dengan target harga jangka pendek di level 179 - 206. BWPT juga secara teknikal masih termasuk fluktuatif.





Pergerakan saham BWPT juga dipengaruhi sentimen fundamental perusahaan. "Sudah memasuki maturity untuk usia sawit sehingga bisa dipetik untuk memproduksi CPO maupun produk-produk turunannya," tambahnya.Reporter: Aldo Fernando 
Editor: Herlina Kartika





Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-analis-untuk-saham-lapis-kedua-bagi-para-trader





jasa bersih rumah dan kost terbaik di jogja, klik disini segera