Tampilkan postingan dengan label LSIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LSIP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Walau kinerja keuangan tahun 2018 menurun, saham LSIP masih layak beli


JAKARTA. Kinerja keuangan PP London Sumatera Tbk merosot akibat tekanan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) yang berpengaruh terhadap lini bisnis utama emiten berkode LSIP tersebut.





Di tahun lalu, pendapatan LSIP tercatat turun 15,2% (yoy) menjadi Rp 4,02 triliun. Di periode yang sama, laba bersih emiten ini tergerus hingga 54,8% (yoy) menjadi Rp 331,4 triliun.





Analis Panin Sekuritas Rendy Wijaya mengatakan, tren koreksi harga CPO mendorong penurunan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) milik LSIP hingga 16% pada tahun lalu. Rendahnya ASP membuat kinerja emiten ini kurang maksimal. Apalagi, kontribusi terbesar pendapatan perusahaan berasal dari produksi CPO sebanyak 91,4%.





LSIP sendiri masih cukup gencar memproduksi CPO kendati harga komoditas ini tengah lesu. Lihat saja, produksi CPO LSIP mencapai 453.168 ton pada 2018 alias meningkat 16,4% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang mentok di angka 389.357 ton.





Rendy menjelaskan, salah satu penyebab produksi CPO LSIP masih tergolong masif lantaran emiten ini menjalankan roda bisnis secara terintegrasi. Dalam hal ini, LSIP secara konsisten menjual CPO ke induk usahanya, yaitu PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) untuk kemudian diolah menjadi produk turunan seperti minyak goreng.





“Karena LSIP memiliki pihak yang menjadi pelanggan tetap, emiten ini masih bisa memperoleh laba walau nilainya turun,” paparnya, Senin (11/3).





Kinerja LSIP memang masih cukup bergantung dari arah pergerakan harga CPO global. Upaya optimalisasi lini bisnis lain seperti karet juga belum membuahkan hasil. Hal ini terlihat dari volume penjualan karet LSIP yang turun dari 11.015 ton di 2017 menjadi 9.096 ton di 2018.





Kontribusi pendapatan LSIP dari penjualan karet pun hanya 4,8% di tahun lalu. Hasil ini turun dari tahun sebelumnya yang berada di level 5,9%.





Menurut Rendy, lini bisnis produksi karet belum bisa terlalu diandalkan oleh LSIP sebagai alternatif di samping produksi CPO. Bisnis karet LSIP sangat bergantung dari permintaan dari sektor otomotif di luar negeri yang cenderung melambat akibat sentimen perang dagang. “Harga karet dunia juga tidak berada dalam tren yang positif,” ujar dia.





Terlepas dari itu, Rendy tetap merekomendasikan beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.600 per saham. Valuasi yang terbilang murah dan fakta bahwa LSIP tidak mencatatkan utang dana di tahun lalu menjadi alasan saham emiten ini masih menarik.





Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/walau-kinerja-keuangan-tahun-2018-menurun-saham-lsip-masih-layak-beli





Reporter: Dimas Andi
Editor: Tendi





rumah kotor, berantakan, dan kurang nyaman? mungkin anda harus membersihkannya, klik jasa bersih rumah jogja untuk mendapatkan pelayanan terbaik


Sejumlah analis rekomenasikan beli saham LSIP, ini alasannya


JAKARTA. PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) tetap memiliki peluang untuk mencetak kinerja yang lebih baik pada tahun ini akibat potensi pulihnya harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) global.





Analis Sinarmas Sekuritas Wilbert Ham menilai, salah satu sentimen yang bisa mendorong harga CPO kembali naik berasal dari sentimen penurunan pajak impor CPO oleh India.





Pemerintah Indonesia pun tengah mengintensifkan komunikasi dengan India untuk menurunkan pajak impor CPO, apalagi negara tersebut merupakan salah satu importir CPO terbesar di dunia.





Selain itu, implementasi penggunaan B20 di Indonesia yang semakin masif juga bisa meningkatkan harga CPO di tahun ini.





Wilbert menyebut, pemerintah Indonesia menargetkan penggunaan B20 bertambah secara signifikan hingga 6 juta kiloliter di tahun 2019.





Tingginya target penggunaan B20 dipastikan akan mendorong lonjakan permintaan CPO di dalam negeri. Ujung-ujungnya, pelaku industri CPO seperti LSIP akan diuntungkan.





“Sejumlah sentimen positif membuat kami mengasumsikan harga rata-rata CPO di level RM 2.300 per metrik ton di tahun ini,” ungkapnya melalui riset.





Rendy Wijaya, Analis Panin Sekuritas melanjutkan, LSIP masih bisa melakukan ekspansi bisnisnya sekalipun harga CPO belum kunjung bullish.





Namun, dengan dalih efisiensi biaya, ekspansi yang dilakukan oleh LSIP kemungkinan akan lebih didominasi oleh kegiatan penanaman kembali tanam-tanaman yang sudah berusia tua.





Terlepas dari itu, LSIP seharusnya bisa menjalankan ekspansi bisnis dengan lebih tenang mengingat kondisi keuangan perusahaan relatif sehat. “Di luar penurunan pendapatan dan laba bersih, LSIP tidak mencatatkan pendanaan utang sepanjang tahun lalu,” terangnya, Senin (11/3).





Maka dari itu, Rendy merekomendasikan beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.600 per saham.





Wilbert juga menyarankan beli saham LSIP dengan target harga serupa yakni Rp 1.600 per saham. Ia memprediksi, pendapatan LSIP pada tahun ini akan mencapai Rp 4,67 triliun, sedangkan laba bersihnya mencapai Rp 610 miliar.





Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/sejumlah-analis-rekomenasikan-beli-saham-lsip-ini-alasannya





Reporter: Dimas Andi
Editor: Yudho Winarto





apakah anda ingin membersihkan rumah atau kost anda namun tidak memiliki waktu luang? serahkan kepada kami, klik jasa bersih rumah dan kost jogja untuk solusi terbaik